“OASE” Itu Namanya Gurutta Fashih Musthafa (1)

(Mengenang Sosok Guru Sederhana yang Berintegritas, Wara’ dan Multi Knowladge)

Semoga Allah mengampuni saya, dan merahmati beliau hingga akhir zaman…menulis tentang Gurutta Fashih Musthafa, saya sedikit punya ketakutan terhadap ketidakakuratan data, tidak rapinya susunan cerita, kelemahan menuliskan setting cerita secara utuh, tanggal, nama-nama tertentu, akan lebih melegakan jika dilakukan penelitian yang lebih komprehensif tentunya dengan data yang lebih akurat.

Menyebutkan beliau kita lebih akrab dengan nama gurutta’ atau lebih khusus lagi dengan nama Puappase’ penyematan gelar tersebut tidak lebih adalah bentuk kita memuliakan beliau Istilah Gurutta’ yang berkembang di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan, bisa diidentikkan dengan sebutan ‘kyai’ atau tokoh agama yang dipandang menguasai ajaran agama dalam segala aspeknya. Akan tetapi penyematan tsb lebih karena pertimbangan kharisma yang menonjol, beliau dinobatkan sebagai tuan guru, walaupun kita akan menerjemahkan Gurutta (guru kita) dalam Dhamir bugis-makassar, Ta’ dikategorikan dhamir mutakallim maal gair atau Ta’ ini bentuk sebagai litta’zim (penghormatan) masyarakat kepada beliau….

Gurutta adalah sosok pribadi yang terbatas yang dipersepsikan oleh kalangan awam sebagai elit, karena ada nilai tambah dalam dirinya, yaitu kelebihan pengetahuan agama. Seseorang akan disebut Gurutta oleh masyarakat, bukanlah diproklamirkan oleh penyandangnya, melainkan karena kesepakatan masyarakat. Berbeda dengan predikat formal seperti sarjana, doktor ataupun profesor. Dalam konteks keislaman, strata sosial masyarakat pada esensinya tidak ada perbedaan, yang membedakan adalah kadar keagamaan masyarakat itu sendiri. Dengan bertambah tingginya nilai penghayatan terhadap nilai keagamaan, diharapkan  akan berdampak pada pengamalan dan pengaplikasian nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari mereka yang tercipta. Pengamalan nilai-nilai keagamaan inilah yang bagi masyarakat Sulsel merupakan barometer kedudukan seseorang di hadapan Allah.

hqdefault

Dari Kurikulum Lokal Hingga Kurikulum Cairo
Qoola mushannif rahimallah wanafa’na biuluumihi wa iyyakum fiddaraini…. Sepenggal kalimat pembuka yang familiar untuk kita ingat sebelum memulai kajian kitab kuning…. adalah Gurutta Fashieh Musthafa, dengan konsistensi beliau mengajarkan pendidikan formal beliau juga aktif mengajar dengan system pengajian Halaqah 3 kali dalam sehari semalam (Ba’da Magrib, Ba’da Isya dan Ba’da Shubuh) yang paling khas dari pola beliau adalah selain mengurai esensi dari kitab yang ditelaah, beliau juga sangat consent dengan makanah atau mahallul fil I’rab teks arab kitab kuning….meskipun tidak semua alumni pernah merasakannya, tapi satu hal yang akan terkenang, beliau tanpa kenal lelah, menenggalamkan dirinya dalam bidang ajar-mengajar dengan kadar keikhlasan yang sangat susah dimengerti orang pada umumnya.

Kemampuan beliau menyatukan visi dan misi para guru untuk mencapai satu tujuan bisa dilihat, dengan rapinya struktur organisasi yang masing-masing dibebankan tanggung jawab sesuai porsinya, hal tersebut terwujud bukan karena iming-iming pendapatan yang luar biasa dari beliau malah yang terjadi adalah para guru (atas uswah beliau) ikut mendermakan sebagian gajinya untuk disumbangkan ke pesantren.

Bahkan sedikit cerita menarik dengan syeikh Al-Madaniiy dari Mesir, beliau pun (Gurutta) secara discipline ilmu mampu mengimbangi bahkan dalam tataran mengkritik syeikh, seringkali beliau harus ‘membenarkan’ syeikh dan sang syeikh pun menerima karena apa yang disampaikan Gurutta berupa dalil tidak terbantahkan, dalam levelnya Gurutta sebagai orang ajamy, Seorang syeikh al madaniy yang notabene asli alumnus Cairo tidak sungkan memuji kecakapan beliau dalam Qaidah Bahasa arab, makanya sangat wajar beberapa alumni yang direferensikan beliau untuk melanjutkan studi di Mesir.

Bahkan untuk mengisi mata pelajaran yang kosong, beliau juga sangat aktif, seperti fisika, kimia dan matematika dan pelajaran IPS lainnya yang tentu saja, ini menjadi “berita buruk” bagi santri yang lega jika ada guru yang berhalangan, yang pastinya ‘hidangan’ materi ilmu yang pernah disajikan beliau sebenarnya memudahkan seseorang itu langsung terjun ke masyarakat, baik dakwah ataupun merintis career usaha hingga alumni yang hendak melanjutkan pendidikan lagi baik dalam negeri ataupun luar negeri.

Pesantren Berbasis Homeschooling
Bisa dikatakan jika seorang santri memiliki jam belajar dari ayam mulai berkokok hingga ‘tompi’ melakukan koor/paduan suara, maka waktu melesat sangat cepat, ragam perasaan santri menyambut subuh sudah berkecamuk, mulai dari ketakutan ancaman tidak menghafal atau bayangan menelan materi pelajaran yang serasa sulitnya seperti memasukkan unta ke dalam tas ransel.

Satu persatu nama dicari sesuai dengan Klan-nya (ada Darul Baqa, Darussalam, Darul Karim, Darul Muttaqien, Darul Jazirah dan banyak Daar lagi), jangan berharap lolos untuk tidak disebut, kemampuan ini saya sebut teori Interactionist Perspective, yang menerapkan komunikasi yang kuat terhadap anak didik, jika hari ini dunia memuji terapan Homeschooling maka beliau jauh-jauh sudah menjalankan ini, disamping beliau sangat dekat terhadap anak didiknya beliau juga sangat mengedepankan ‘paham’ dibanding hafal. Pola ini terbawa sebelum pengajian dimulai kita sudah terlebih dahulu ber-gladi resik ria dengan teks arabiyah, untuk mencari kemungkinan pertanyaan yang akan diberikan Gurutta’.

Santri segan bukan karena takut mendapat hukuman fisik, komunikasi beliau terhadap orang tua santrilah yang menjadikan kita ini bisa mendapat hukuman ganda dari orang tua, pendekatan ini sepertinya cukup ampuh untuk para santri yang takut tidak disuplay bahan makanan dari orangtuanya. Pengawasan inilah beliau lakukan untuk menciptakan santri-santri yang siap pakai di masyarakat.

Berbicara tentang pengawasan beliau, belum lepas di ingatan Andassi, tumpukan buku/kitab di balik jendela seperti animasi visual yang menyerupai sosok Gurutta, yang setia mengawasi santri yang lalu lalang dari kampus ke kampus, motifnya macam-macam, mulai dari santri yang bermodalkan nasi putih keluyuran cari lauk untuk memenuhi kebutuhan perut hingga santri yang cari kesempatan ke kampus putri untuk memenuhi kebutuhan di bawah perut.

Bagi santri yang dahaganya masih kurang, beliau dengan senang hati membuka malam Jumat di Mangkoso, rumah kediaman beliau sebagai sarana tambahan untuk menimba ilmu, Matan Mutammimah dilaksanakan selepas Isya’ dan Ilmu Sharaf’ selepas shalat subuh.  Jam khusus ini tidak diwajibkan namun antusias santri sangat luar biasa mengingat ada beberapa santri yang rela berjalan kaki dari Takkalasi ke di Mangkoso.

Terhadap santri yang memang extra nakal dan malas, beliau akan tindak tegas dengan cara yang berbeda-beda, ada yang dimarahi, dihukum, dipukul hingga di-uzlah (didiamkan atau dicuekin), Nah Andassi…di-uzlah inilah yang rasanya sakit di atas sakit, mungkin pada saat itu kita akan lebih memilih untuk menerima hukuman fisik oleh beliau, dibanding hendak salaman selepas berjamaah ditolak dan diacuhkan.

Ada yang menarik dari beliau ketika pada saat marah, jika marah pada umumnya menghilangkan logika, maka kemarahan beliau bukan menghilangkan akal sehatnya tetapi semakin tampak kebijakannya, memang beliau sedikit bergetar, tapi marahnya membuat kita sadar akan kesalahan, dari sekian banyak list asbabun nuzul keluarnya murka beliau diantaranya, kemalasan, (terlambat dan tidak hadir), merokok hingga memainkan game/permainan yang sia-sia menurut beliau.

Darud Dakwah Wal Irsyad, adalah anugerah masyarakat Sulsel dan Indonesia, pendidikan berbasis dakwah dan Keilmuan agama kini sudah ada di saentero Indonesia, alumninya sudah ada dimana-mana dan menduduki posisi penting di negeri ini. DDI Takkalasi terhadap DDI Mangkoso memang seperti adik terhadap kakaknya, namun intisari dari metode yang beliau kembangkan terhadap khittah DDI tidak jauh berbeda, cuma kala itu era 90-an ada beberapa alumni yang memang sengaja hijrah ke Takkalasi demi mempertajam lagi khazanah keilmuan turats.

Sumber  : http://dditakkalasibarru.blogspot.co.id

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s