Literasi Hilang, Apatis Pun Muncul

Informasi Yang disajikan oleh media saat ini, baik itu media cetak seperti koran , majalah dll , serta media elektornik seperti televisi  dan tentu saja yang sangat fenomenal yaitu internet.

 Oleh masyarakat awam, media tersebut  sering kali dianggap sebuah “sumber kebenaran”. Banyak yang tidak memahami bahwa  media punya kekuasan intelektual untuk melayani  berbagai macam kepetingan, rekonstruksi fakta pun kerap kali terjadi , dan hasilnya  = fakta itu yang  menjadi konsumsi utama masyarakat, #literasimedia pun  mutlak dilakukan baik oleh seluruh lapisan masyarakat …..

hal ini sementara terjadi  , dengan  lahirnya  citisen jurnalisme atau biasa dikenal dengan istilah jurnalisme warga yang sekarang ini mulai marak dan menjadi trend ,  hanya saja banyak yang terjebak pada sebuah “frame” berpikir, tentu saja hal ini tidak terjadi secara kebetulan ,  Jangankan pada  perlakuan atau implementasi , kata Literasi sendiri sangat jarang digunakan ,  hanya biasa muncul di waktu tertentu , terkesan hanya dimaknai sempit sebagai kemapuan dasar yang tidak penting.

sangat erat kaitannya antara media dan Informasi  ,   kata ini selalu bersanding , karena ” media” selain menyajikan  hiburan , tentu saja  informasi adalah produk utamanya .

Cilakanya , media besar sangat berperan penting dalam hal ini ,  mengambil keuntungan besar  dan bersama pihak yang punya kepentingan aslakan bisa membayar  maka rekontruksi fakta yang melahirkan informasi pun dilakukan secara sistematis.

kebanyakan  yang biasa dan sering menjadi korban adalah kita para konsumen atau pengguna media elektonik dan internet  , kurang lebih 260 juta  pengguna di indonesia ,  setiap harinya secara tidak sadar terjebak dalam ” framing”  mereka. Meski ada beberapa orang dan kelompok yang sadar akan ha tersebut  , namun  kekuatan yang dimiliki tidak begitu besar dan hebat sebagaima  yang lain . selain karena proses pendidikan literi yang diberikan tidak berjalan secara terstrukrur, dilain pihak , objek nya pun tidak diberi ruang untuk menjadi subjek … ini berarti hal tersbut sama saja … menabur garam ke dalam lautan.

olehnya  , ketika anda menyempatkan membaca catatan kecil  ini , sempatkanlah  kembali mencari arti dan makna literasi , kemudian gabungkan  kedua kata tersebut menjadi literasi media dan literasi informasi . semoga kita semua bisa lebih  memahami dan tersadar tentang kondisi apa yang kita hadapai sekarang ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s